Sabtu, 26 Maret 2011

Andi Pangerang Pettarani : The Godfather of Celebes

The Godfather merupakan julukan yang melekat dalam diri tokoh, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi di era (1956-1960) ini. Kesederhanaan hidup yang terpancar jelas dari kehidupannya, telah membuatnya menjadi seorang pemimpin yang dicintai, disegani, dan dihormati oleh masyarakat pada waktu itu. Maka tak heran warisan akan nama besar beliau, hingga kini dapat tetap kita ingat sebagai salah satu jalan terbesar yang ada di kota Makassar, Jalan Andi Pangerang Petta Rani (AP Petta Rani).

Andi Pangerang Petta Rani lahir pada awal abad XX, tepatnya 14 Mei 1903 di desa Mangasa. Desa ini sendiri terletak di kawasan Kabupaten Gowa, yang telah lama dikenal sebagai sebuah kerajaan yang terbesar di wilayah Indonesia bagian timur. Ibunya adalah seorang ningrat bernama I Batasai Daeng Taco, sedangkan ayahnya adalah Raja Bone Terakhir, Andi Mappanyuki, aristokrat muda yang mempunyai peranan dalam dunia pemerintahan kerajaan Gowa.

Jika kita kembali menengok kepada sejarah, Kakek Andi Pangerang Petta Rani merupakan Raja Gowa yang ke XXXI, dan dikenal dalam sejarah dengan sebutan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tu Lenguka ri Bundu’na. Dari bagian terakhir namanya yang berbunyi Tu Lenguka ri Bundu’na, yang berarti ‘orang yang berlindung di balik peperangan”.

Andi Pangerang Petta Rani sendiri, lahir pada saat yang kurang menguntungkan dimana saat itu kompeni Belanda masih menjajah hampir seluruh pelosok Indonesia termasuk Sulawesi. Oleh sebab itu, kedua orang tuanya, segenap anggota keluarga, dan lingkungan masyarakat, menumpukan harapannya agar kelak anak tersebut menjadi seorang manusia yang berbakti kepada orang tua, terpuji tingkah lakunya di masyarakat, dan kelak menjadi pemimpin di masyarakat yang disegani dan dihormati. Berkat doa dari orangtuanya, dan harapan masyarakat, harapan yang mulia itu pada akhirnya terwujud, dimana pada tahun 1950-an, AP. Petta Rani berhasil meniti karirnya menuju puncak pimpinan di Sulawesi dan berjaya menduduki jabatan gubernur militer.

Meskipun telah menjadi seorang pemimpin, beliau toh masih tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang dianut oleh keluarganya. Setelah melalui upacara adat dan tradisi budaya oleh keluarganya, Putra kesayangan Andi Mappanyuki itu, kemudian diberi nama Andi Pangerang Daeng Rani. Namun, seiring dengan waktu nama itu kemudian berubah sedikit menjadi Andi Pangerang Petta Rani. Tidak ada satu sumber hingga saat ini, yang dapat menjelaskan dengan jelas proses perubahan sebutan dari ‘Daeng’ ke Petta. Yang jelas gelar ‘daeng’ dan ‘petta’ itu keduanya bermakna gelar bangsawan, baik untuk orang Bugis maupun untuk orang Makassar.

Menurut salah satu sumber lokal, asal mula nama Pangerang diberikan oleh Andi Mappanyuki dan Daeng Taco. Yaitu ketika Daeng Taco sedang berada dalam kondisi hamil tua, yaitu pada saat mereka mengunjungi mertuanya. Dalam kunjungan itu, Andi Mappanyuki membawa ‘persembahan’ atau bingkisan seperti kebiasaan yang ada dalam adat Bugis Makassar, khususnya di kalangan aristokrat yang berperan sebagai pengontrol adat.

Persembahan itu dalam bahasa Makassar disebut erang-erang. Tak berapa lama kemudian, Daeng Taco melahirkan anaknya yang pertama. Nah! untuk mengabadikan peristiwa kunjungan ke mertuanya itu, maka anaknya diberi nama Pangerang yang bermula dari kata erang-erang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar