Sabtu, 26 Maret 2011

Pesan-pesan Kepemimpinan dalam Lontara Makassar

Kedudukan pemimpin serta rakyat
Pemimpin dalam lontara diibaratkan sebagai Angin (anging), Air (je’ne), juga sebagai Jarum (jarung). Adapun rakyat diibaratkan sebagai Daun (leko’ kayu), Batang Pohon (batang kayu), Benang (bannang panjai’). Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan :


1) Anging na leko’ kayu ; anginmako na ikambe leko kayu, miri’ko anging namarunang leko’ kayu. Artinya Raja atau pemimpin di ibaratkan sebagai angin dan rakyat diibaratkan sebagai daun. Dimana angin berhembus nampak daun bergoyang mengikuti arah angin.
2) Je’ne na batang mammayu ; je’nemako ikau na ikambe batang mammayu, solongko je’ne namammayu batang kayu. Artinya Raja/ Pemimipin diibaratkan sebagai air dan rakyat di ibaratkan sebagai batang yang hanyut. Kemana air mengalir kesana pula batang akan hanyut. Apa kehendak Raja/ Pemimpin rakyat akan patuh.
3) Jarung na bannang panjai’ ; jarungmako Ikau na ikambe bannang panjai, ta’leko jarung namminawang bannang panjai. Artinya Raja/ Pemimpin diibaratkan sebagai jarum dan rakyat diibaratkan sebagai benang kelindang. Jarum tidak akan ada gunanya tanpa didukung oleh benang kulindang, kalau pada suatu saat jarum digunakan atau menggunakan diri tanpa benang hanya akan merusak dan menimbulkan rasa sakit. Benang juga merupakan lambang pemersatu. Namun hal ini disanggah dengan ungkapan : IA SANI LAMBUSUPPI NAKONTU TOJENG. Artinya, angin boleh berhembus dan daun akan bergoyang, air boleh mengalir dan batang akan ikut, jarum boleh merajut dan benang akan ikut. Hal ini akan terwujud bila Raja/ Pemimpin berada dalam kejujuran, arif dan bijaksana.
Hal tersebut dapat pula dilihat dalam ikrar/ sumpah (Aru) orang Gowa terhadap  Rajanya, yang cuplikannya sebagai berikut :
Ikau anging Karaeng
Na ikambe leko’ kayu
Mirikko anging
Namarunang leko’ kayu
Iya sani madidiyaji narunang
Ikau je’ne Karaeng
Na ikambe batang mammayu
Solongko Je’ne
Namamminawang batang kayu
Iya sani sompo bonangpi kiayu
Ikau jarung Karaeng
Na ikambe bannang panjai’
Ta’leko jarung
Namamminawang bannang panjai’
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng.
Yang harus diperhatikan bagi seoarang pemimpin
Seorang pemimpin harus memperhatikan budaya yang masih hidup dan mengakar di masyarakat, dalam hal ini budaya yang ada dalam masyarakat makassar yakni : budaya Siri’, Pacce, Sipakatau dan Rupagau,  dll. (Malu, solidaritas, saling menghargai dan perbuatan baik, dll). Sebagaimana disebutkan dalam lontara :
  1. Karaenga angngassengi atanna, na atayya angngassengi karaenna. Artinya pemimpin tahu rakyatnya dan rakyat tahu pula kewajibannya.
  2. Karaenga tamannappu bicara bundu punna tena gallarranga. Artinya pemimpin tidak akan memutuskan masalah perang kalau tidak di musyawarahkan dengan rakyat melalui gallarrang (Dewan Kerajaan).
  3. Karaenga tamangngalle bayao sibatuna tumabbuttayya punna tanapalakka, nipalaki siratang nipalaka, niballi siratang niballiya. Artinya pemimpin tidak akan mengambil hak milik rakyat, walau sebutir telur kalau tidak diminta. Diminta yang patut diminta, dibeli yang wajar dibeli. Ini berarti pemimpin tidak akan mengambil hak rakyat semena-mena.
Kriteria dalam memilih seorang pemimpin
Disebutkan bahwa untuk memilih pemimpin harus diperhatikan kriteria, seperti dalam ungkapan : punna ammileiko tumapparenta tea laloko pilei tau assipa juku kanjiloa, nasaba punna tau assipa juku kanjilo nakanrei ana’na, mingka iya lalo pilei tau assipa angrong janganga, nasaba punna assipa angrong jangang, najagai ana’na battu ri pammanrakia, napakapeki ka’nyi’na punna nia balangkoa, napa’boyangi kanre ana’na manna ilalangmo kanrea ri totto’na punna nia inja ana’na siagang paranna jangang tamanggappa kanre napasulu’ji kanrena battu ri totto’na nana sareang ana’na iyareka paranna jangang.
Artinya, kalau memilih Raja/ Pemimpin, jangan pilih orang yang bersifat ikan gabus, karena kalau orang yang memiliki sifat ikan gabus akan memangsa anaknya dan sesama ikan, tapi pilihlah raja/ pemimpin yang memiliki sifat induk ayam, karena orang yang mempunyai sifat induk ayam, akan melindungi anaknya dari ancaman bahaya, akan mencarikan nafkah anak dan sesamanya, walau makanan telah berada dalam paruh dan mulutnya, kalau dilihat masih ada anak atau sesama yang belum dapat makanan, maka dikeluarkanlah dari mulutnya lalu diberikan pada anaknya atau sesamanya yang belum kebagian makanan.
Disamping sifat angrong jangang, dalam lontara juga disebutkan bahwa seorang pemimpin haruslah :
  1. Panrita : pintar, cakap, berilmu dan berwawasan luas.
  2. Iapa napare poko’ barang-barang mallaka ri Allah Taala lahere na bateng : berprinsip bahwa Taqwa kepada Allah SWT adalah segalanya baik lahir maupun batin.
  3. Baranipi : memiliki keberanian dalam bertindak.
  4. Mattappi ri bicaranna : Konsekwen dan konsisiten dalam keputusannya.
  5. Malambusuppi ri larrona siagang ri tamalarrona : jujur dan arif ketika marahnya lebih-lebih disaat tidak marah.
  6. Mammempopi ri passimbangenna mappakamalla-mallaka, namappakabuyu-buyua : menempatkan diri diantara hal-hal yang menakutkan dan menggembirakan.
  7. Napabutapi matanna, napatongolo’ppi tolinna ri sitabannaya battu ri tabbala’na : melihat dan mendengar secara cermat dan wajar, tidak terpengaruh terhadap apa yang dilihat dan didengar, tapi adil dan arif dalam melihat dan mendengar.
  8. Majaiyampi pangngamaseang pa’mai’na ri tabbala’na naiya larrona, na sipakkangpi malaboa nanapare’mo barang-barang nikaya alle kale : kasih sayangnya lebih menonjol, sifat suka memberi dan tenggang rasa menjadi karakternya.
Dalam memilih pemimpin, disebutkan hal-hal yang harus dihindari, yakni : TAU ERO’ DUDUA, SIAGANG TAU TEA DUDUA RI SE’REA PANGGAUKANG IYAREKA JAMA-JAMANG, TAMANGNGERANGI KABAJIKAN TAMA’RINGI NIPILEI. Artinya jangan memilih orang yang terlalu berambisi dan orang yang terlalu menghindari suatu pekerjaan atau jabatan, tidak akan membawa kebajikan TIDAK LAYAK DIPILIH.
Yang harus diperhatikan dari seorang pemimpin.
Kalau seseorang telah menduduki jabatan sebagai pemimpin, maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan : SITAUA TUMAPPARENTA PUNNA ILALANGNA APPARENTA NABALLAKI TALLU RUPANNA PANGGAUKANG MAKA LANGNGERANG KAMUNAPEKANG, URU-URUNA NIRANNUANG TAMALLAKU-LAKU, MAKA RUANA A’JANJI TANARUPAI, MAKA TALLUNA NITANRASA LAMBUSU NA JEKKONG. Artinya, Jika seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya, dimilikinya tiga hal dapat membawa kemunafikan, pertama diberi amanah tapi khianat, kedua berjanji tapi ingkar, dianggap jujur tapi curang.
TALLU TONGI RUPANNA PANGGAUKANG RI SE’REA TUMAPPARENTA ANGNGERANG KAPANRAKANG. Artinya, tiga perbuatan yang dapat membawa kerusakan :
  1. PUNNA ADDANGGANGMO TUMAPPARENTAYA. Artinya, Jika pemimpin sudah mulai berdagang, apabila ini terjadi maka setiap aktifitas yang dilakukan sudah ada perhitungan untung, yang bisa meninggalkan rasa pengabdian.
  2. PUNNA ANNARIMAMO PASSOSO’ TUMAPPARENTAYA, Artinya, jika pemimpin menerima sogok setiap melakukan kebijakan.
  3. PUNNA TEYAMO ANNARIMA PAPPASAILE TUMAPPARENTAYA. Artinya, jika pemimpin tidak mau lagi menerima nasehat.
Pantangan bagi seorang pemimpin
Sebagai seorang pemimpin yang berkuasa, maka ada beberapa hal yang menjadi pantangan baginya untuk dilaksanakan, salah satunya adalah : NUTEA’ LALO AMMINTINGI APA-APA BATTU LALANG RI PASARAKA. AULE ANU NUBALLIJI SALLANG NAKANAMO TAUWA ANU NU PALA-PALA. Artinya, jangan sekali-kali menenteng barang-barang dari dalam pasar, jangan sampai barang itu kau beli tetapi sangkaan orang kau minta-minta.
Pembagian waktu seorang pemimpin
Terakhir adalah pesan-pesan bagi seorang pemimpin tentang pembagian waktunya. Disebutkan : PUNNA ANJARIKO TUMAPPARENTA BAGI APPAKI WATTUNNU. (Kalau menjadi seoarang pemimpin, bagi empat waktumu) :
  1. SITAWANG WATTUNNU PA’MATU-MATUI SIPAMMEMPOANG TUMAPPARENTA LAHEREKA. Artinya, sebagian waktumu gunakan duduk bersama dengan cendikiawan untuk membicarakan bagaimana negeri dan masyarakat ini dibangun diatas dasar ilmu pengetahuan.
  2. SITAWANG WATTUNNU PA’MATU-MATUI SIPAMMEMPOANG TU PANRITA BATENGA. Artinya, sebagian waktumu gunakan duduk bersama rohaniawan (ulama) untuk membicarakan bagaimana negeri dan masyarakat ini dibangun diatas moral agama dan budaya.
  3. SITAWANG WATTUNNU PA’MATU-MATUI SIBUNTULU TAU JAIYA. Artinya, sebagian waktumu gunakan untuk bertemu dengan masyarakat umum untuk mendengarkan informasi dan keluhannya.
  4. SITAWANG POLE WATTUNNU PA’MATU-MATUI PORO NUKUSIANGNGI RIBONE BALLA’NU. Artinya, sebagaian waktumu lagi gunakan untuk duduk bersama dengan keluarga (istri dan anak-anak), jangan sampai karena kesibukan mengurus negara sehingga lupa mengurus rumah tangga, keluarga dan anak-anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar